Senin, 25 Juni 2018

Bertualang diGunung Prau

Gunung prau menjadi tujuan liburan adila pimpi banesia,sebagai seorang bapak yang doyan bertualang  Ki Rekso Jiwo tentunya mengiyakan dan menemani sekaligus bertualang bersama anak pertamanya,mengingat anak perempuan,sekalipun sudah dididik bertualang dari gunung kegunung,namun untuk melepaskan petualangan digunung tidak akan dilepas begitu saja,mengingat besarnya tanggung jawab menjadi orang tua

Sampai pada saat nanti berumah tangga,tentunya tidak akan sebebas ini bertualang dari gunung kegunung seperti masa masa sekolah dibawah pantauan dan didikan orang tua.
Kembali kegunung prau,kali ini jalur yang dipilih melalui desa patak banteng,sebagai alasan,karena menggunakan aplikasi Gprs sampailah dijalur pendakian ini,mengurangi keribetan pastinya heheee

Perjalanan dari solo ke dieng desa patak banteng ditempuh selama kurang lebih 5 jam,dari solo jam 5 sore dan kurang lebih jam 10an malam sampai dibasecamp,untuk beradaptasi,sejenak mendaftarkan diri dan nyantai diwarung minum kopi hangat

Tak terasa waktu berjalan cepat dan jam 1pagi pendakian dimulai,agar tak ketinggalan sunrise,walaupun jalur pendek,namun karena belum mengenal medan gunung prau,sehingga belum bisa memprediksi dengan tepat
Diperkirakan sampai puncak paling lambat jam 5,alias pendakian santai

Perjalanan diawali dengan melewati perumahan warga dan tanjakan cor,kemudian melewati perkebunan kecil dan menaiki jalur batu ditata rapi,pemanasan yang lumayan menyenangkan pada setiap jalur pendakian gunung,jalur pemanasan tergolong pendek namun menjadi kejutan tersendiri

Pos pertama dinamakan sikut dewa,mungkin karena jalurnya menyiku tajam,jalur pendakian banyak terdapat tempat tempat beristirahat,yang pada siang ari dipakai untuk berjualan,pendakian kami lalui dengan sangat santai,mengingat banyaknya tempat yang bisa digunakan istirahat sejenak

Jalur pendakian berupa tanah merah sehingga perjalanan naik berdebu,sehingga dibutuhkan masker atau pelindung udara,agar tak terhirup keparu paru,rute bisa dibilang nikmat,mengingat pada jalur yang mendaki dipancang kawat sling untuk pegangan,tak terasa pos dua cangakan walangan  sudah sampai 
kemudian melewati jalur akar seperti cacing dari pos dua hingga pos 3 sehingga pos 3 dinamakan cacingan,mengingat banyaknya akar yang terlihat,jalur tanjakan yang menguras tenaga

Jalur pos 3 ke pos selanjutnya lebih menanjak,namun jika melewatinya pada siang hari akan terlihat telaga warna dari ketinggian,terlihat seperti batu jamrud,jalur peta yang diberikan serasa panjang,namun tak terasa sudah melewati pelawangan atau puncak dewa,mengingat kabut dan angin kencang mewarnai perjalanan,dan saat melewati pohon,seperti ujan deras

Suasana gelap kabut,pandangan hanya beberapa meter saja dan jalur tertutupi tenda,walaupun sudah berada dipuncak,namun seolah olah belum berada dipuncak,mengingat keadaan dingin angin berkabut,maka Ki Rekso Jiwo memutuskan mendirikan tenda,walaupun adila pimpi mengajak untuk melanjutkan sampai puncak tertinggi

keadaan gelap serta dingin mengharuskan untuk istirahat didalam tenda,menunggu sunrise,namun mengingat kabut tebal turun,hingga jam 11 siang matahari tak terlihat,setelah sarapan pagi barulah pendakian dilanjutkan kembali,dan tak disangka,hanya tinggal tak sampai 3 menit menaiki bukit,puncak tertinggi berada
pecahlah tawa Ki rekso Jiwo meledek anaknya,dan adilapun tersipu,ada pelajaran yang berharga disini,dalam keadaan apapun,janganlah terlalu memaksakan diri,lihat, amati serta nikmati keadaan,tetap waspada
karena pendakian bukanlah puncak yang menjadi tujuan,namun kembali pulang dengan selamat,itulah tujuan utama
jam 11 siang lebih sedikit,mentari bersinar dengan cerahnya,angin menyapu kabut,nampaklah keindahan alam pegunungan disekelilingnya,terbayar sudah perjalanan ini,dengan pesona indah alam semesta yang disuguhkan

Selasa, 10 April 2018

Puncak garuda merapi

Senin kemarin Ki Rekso Jiwo mendaki kembali,bersama adila pimpi banesia berangkat dari solo jam setengah 7 malam,perjalanan dari solo ke basecamp balameru selo boyolali,kurang lebih satu setengah jam,setelah sampai dibasecamp,sepeda motor diparkir dan melakukan registrasi

Registrasi lumayan banyak yang ditulis,diantaranya nama,alamat,tempat tanggal lahir,jumlah anggota mendaki,nama teman mendaki,nomor telepon,peralatan yang dipakai,lalu bekal air dan peralatan yang dibawa,serta meninggalkan kartu identitas diri,bisa KTP,SIM atau kartu Identitas lain,sebagai syarat utama
setelah registrasi,packing mempersiapkan segala kelengkapan dan menyiapkan headlamp untuk penerangan dalam mendaki,perjalanan dari basecamp diawali dengan tanjakan aspal menuju new selo,kemudian beton cor naik dengan nama tanjakan kebenaran yang terus menanjak,melewati perkebunan warga hingga sampai pada gapura atau pos bayangan,dimana terdapat selter untuk berteduh dan duduk nyaman
dari basecamp hingga ke pos gapura atau pos bayangan kurang lebih 1,1km dengan waktu normal satu setengah jam
latihan silat dipuncak merapi
latihan silat dipuncak merapi

dari pos bayangan hingga pos 1 atau pos batu belah didominasi tanjakan tanah jalur air yang mana lumayan banyak pohon tumbang menghlangi jalan,suasana gelap dan dingin pegunungan saat hembusan angin bertiup kencang lumayan terasa,perjalanan kurang lebih satu jam
Pos 1 hingga pos 2 didominasi jalur batu berpasir yang kemiringannya hingga kurang lebih 6o derajat sehingga sering kali harus merangkak naik,disini energi terasa sangat terkuras,perjalanan kurang lebih satu jam,banyak yang mendirikan tenda diarea ini
pos 2 hingga watu gajah jalur menanjak tanah sesekali batu yang ditempuh kurang lebih setengah jam,merupakan tempat paling banyak dipakai untuk mendirikan tenda
watu gajah ke pasar bubrah kurang dari setengah jam,dan disini Ki Rekso Jiwo memutuskan untuk mendirikan tenda karena suasana pagi yang dingin menyengat tubuh,beristirahat sejenak dan membuat wedang jahe untuk meredakan rasa dingin pegunungan

Setelah beristirahat beberapa jam,kegiatan selanjutnya adalah mengisi perut dengan makan roti dan kacang,selanjutnya menikmati keindahan sunrice dari ufuk timur,selanjutnya menyiapkan perbekalan secukupnya untuk mendaki puncak garuda merapi

Seluruh perbekalan ditinggalkan sebagian besar peralatan didalam tenda,hanya membawa air dan logistik dalam perjalanan menuju puncak yang tinggi menjulang,perjalanan lebih dari satu jam,karena separuhnya atau awal perjalanan,melalui jalan naik pasir,sehingga sering kali merosot dan memerlukan tenaga luar biasa

Setelah melalui pasir yang memaksa kaki merosot,jalur batu yang berpasir,dibutuhkan tenaga serta kewaspadaan extra menuju puncak,dan banyak terdapat himbauan untuk tidak mendaki puncak,namun tak afdol rasanya jika pendakian hanya sampai pasar bubrah saja,oleh sebab itulah banyak yang tetap melakukan pendakian kepuncak

Diantara batu batu sebelum sampai kepuncak banyak terdapat uap belerang dari bawah yang menyembul,terlebih saat sampai puncak,karena dibelakang puncak adalah kawah sangat dalam yang tak mampu dilihat,saking dalam dan pekatnya asap yang keluar,gunung merapi merupakan gunung paling aktif diindonesia sehingga menjadi favorit para pendaki 

Sejenak waktu dipakai untuk berdoa dan berlatih silat serta berfoto yang kemudian dilanjutkan turun,sesampainya ditenda yang berada dipasar bubrah,waktunya makan pagi dengan memasak mie instan dan jelly untuk menyegarkan kembali tubuh,sebagai persiapan untuk turun kembali

Suasana yang begitu mempesona,terkadang panas kadang kabut menutupi membuat nuasa semakin luar bisa,setelah selesai makan dan istirahat dirasa cukup,semua perlengkapan diringkas atau dipacking kembali dalam ransel,perjalanan turun dan pulang 
Dalam perjalanan pulang banyak sekali ditemui jalak gunung serta monyet jawa yang mencari makan,dan sayang sekali banyak pendaki yang meninggalkan sampah berserakan digunung merapi ini,selayaknya pendaki tak hanya menikmati alamnya,namun menjaga alam dengan membawa sampah dari perbekalan dirinya untuk dibawa turun.
semoga alam tetap lestari

Senin, 15 Januari 2018

Puncak Natas Angin

Puncak Natas angin merupakan salah satu puncak digunung muria,proses pencapaian pendakian dilakukan melalui desa rah tawu kudus,terdapat gapura punden Abiyoso,perjalanan dari kota kudus kurang lebih 20 km,untuk menuju desa Rahtawu  disarankan untuk mengunakan kendaraan pribadi atau motor,mengingat jalan masih tergolong sempit,karena saat Ki Rekso Jiwo kemarin memasuki desa Rahtawu,kebetulan ada hajatan dan jalan utama banyak warga yang sedang duduk asyik menikmati acara campursari,sejenak Ki Rekso Jiwo menghentikan sepeda Motor karena sungkan dan hendak mencari jalur lain,namun ada pemuda yang mengatakan langsung saja,karena jalan utama hanya ini,dengan pelan pelan dan kondisi jalan merupakan tanjakan,sungkan tidak sungkan harus dilewati,sehingga pelan pelan motorpun melaju melewati kumpulan warga yang menyaksikan hiburan campur sari dihajatan nikahan

setelah melaju dengan sepeda motor,terlihat gapura punden Abiyoso disebelah kiri atas,namun kondisi sepi senyap,mengingat kondisi malam dan malam sabtu atau bukan hari libur,sehingga tak ada pendaki yang datang dan tak ada warung yang buka,disebelah kiri gapura terdapat rumah warga,dan sebisa mungkin didatangi untuk menitipkan sepeda motor,alhamdulillah,saat sampai didepan rumah,pintu langsung dibukakan dan langsung bisa persiapan nanjak

Perjalanan malam ditemani binatang binatang malam,kelabang hutan,jangkrik,lintah dan sebagainya,sungguh pengalaman yang sangat menegangkan digunung satu ini,walaupun tidak tinggi seperti gunung gunung yang pernah didaki

Sampai banyak darah yang keluar karena dihisap lintah,mengingat jalur yang dilewati terdapat beberapa sungai dan air terjun yang terlihat jelas saat siang hari,sehingga sangat wajar jika banyak terdapat lintah

Tak cukup dengan binatang lain yang disebutkan tadi,masih banyak binatang buas malam yang menemani perjalanan malam kali ini,ular bandotan sawah dan ular weling pun menghalangi jalan alias didepan merayap melintang,mungkin sebagai pengingat agar mengurungkan niat untuk mendaki,namun Ki Rekso Jiwo memang tidak berniat macam macam,hanya bertadabur alam mengingat kebesaran Tuhan melalui ciptaanNya,sehingga perjalanan tetap dilanjutkan

uniknya lagi dipendakian Abiyoso atau natas angin tidak ada Pos 1,langsung pos 2 saat perjalanan mendaki

Pos 3 terdapat warung yang kebetulan tutup,namun bisa digunakan untuk istirahat,dikarenakan telah dibuatkan bangku dari bambu,sehingga istirahat dapat dilakukan dengan nyaman,sekaligus dapat melihat suasana kota kudus dimalam hari disini
Pos 4 merupakan pertigaan yang terdapat sumber air yang mengalir,ke arah kiri terdapat sendang suci,dan arah kanan menuju puncak Abiyoso

Puncak abiyoso ditandai dengan gapura yang bertuliskan jawa,pada saat itu kabut lumayan pekat hingga sulit digunakan untuk berfoto,dari pos 4 hingga ke puncak Abiyoso

dalam keadaan gelap oleh kabut dan kebetulan tak ada warung yang dibuka,Ki Rekso jiwo memutuskan u ntuk kePunden eyang Putri Sakembaran,bermeditasi dan beristirahat untuk menunggu cuaca membaik
namun hingga siang cuaca tak membaik,bahkan sempat hujan deras,saat hujan tak lagi turun,perjalanan dimulai kembali kenatas angin

Perjalanan menuju Puncak natas angin melewati petilasan ir sukarno cuaca dipenuhi kabut tebal

perjalanan sampai pada jalur naga,dimana kiri kanan adalah jurang,angin kencang slalu mewarnai,bahkan tanah terasa bergetar saat angin kencang berhembus

karena keadaan yang semakin menghawatirkan,seragam pendekar pun dipakai untuk bersiap menghadapi keadaan,dimana angin,kabut serta medan yang berat,yang memiliki kemiringan 70 derajat,sehingga perlu merangkak mendaki
Perjalanan berat yang akhirnya membawa kepuncak natas angin yang seakan merupakan sarangnya angin,bersama Adila pimpi banesia anak Ki Rekso jiwo,akhirnya puncak Natas angin dapat ditaklukan sementara waktu

Selanjutnya kembali dengan melewati puncak yang tak bernama,melalui jalur bebek yang lebih terasa berat,mengingat jalur tersebut merupakan jalur yang didominasi tanah merah yang licin,turunan tajam,yang untungnya telah disediakan tali untuk melewati jalur curam yang lumayan panjang

Bahkan harus merangkak menerobos pohon tumbang untuk melintasi jalur pulang

Digunung i ni banyak terdapat petilasan petilasan atau punden yang biasanya malam satu suro ramai digunakan untuk ritual tertentu
dan saat Perjalanan pulang bisa dinikmati suasana yang lebih indah,mengingat air terjun dapat terlihat dari kejauhan,bukit bukit yang indah sangat bisa dinikmati walaupun masih diwarnai kabut tipis

Perjalanan turun kembali dilakukan hingga basecamp dan selanjutnya menempuh perjalanan kembali pulang kearah solo kembali,sampai bertemu dipetualangan gunung dipuncak puncak yang lain
rahayu
whatshap 089666616661 Ki rekso jiwo,siapa tahu bertemu dipetualangan berikutnya

Senin, 26 Juni 2017

Ki Ageng Giring III dan Ki Ageng Pemanahan

Ki Ageng Giring III dimakamkan didesa Sodo paliyan,gunung kidul.keberadaannya berhubungan erat dengan sejarah mataram islam yang menjadi cerita tutur tinular atau dari ucapan yang menyebar,dikisahkan bahwa Ki Ageng Giring III merupakan keturunan raja majapahit dari Prabu Brawijaya IV dan Ki Ageng Pemanahan,adiknya merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V ,karena runtuhnya majapahit,akhirnya anak keturunannya tercerai berai mengungsi hingga dikemudian hari berdirinya kraton pajang,mereka mengabdikan diri pada Sultan Hadiwijaya serta berguru pada kanjeng susuhunan Kalijaga

Hingga pada masa dimana wahyu keprabon oncat dari kraton pajang,Kemudian, Ki Ageng Giring III atau yang memiliki nama kecil Raden Mas Kertanadi mendapat bisikan perintah dari Susuhunan Kalijaga, disuruh  untuk mencari wahyu keprabon, pergilah Ia bersama Ki Ageng Pemanahan atau yang sewaktu masih kecil dipanggil Ki Bagus Kacung ini. Ditunjuk oleh Sunan keduannya untuk pergi ke wilayah selatan yang sekarang dikenal dengan sebutan Gunungkidul.
Ki Ageng Giring III menempati wilayah desa Sodo Paliyan, sedangkan Ki Ageng Pemanahan di desa Kembang lampir Panggang. Selama bertahun-tahun, ia bercocok tanam dan menyebarkan Agama Islam. Suatu saat ada perintah berupa bisikan suara lagi untuk menanam sepet kering (sabut kelapa) oleh Sunan kalijaga, kemudian ditanamlah sebuah sabut kelapa, lalu lambat laun tumbuh atau trubus tunas kelapa yang kemudian menjadi pohon kelapa.“Kemudian Berbuahlah pohon kelapa tersebut. Hanya Terdapat satu buah degan atau kelapa muda yang hijau dengan sebutan gagak emprit,” Sementara itu juga, Ki Ageng Pemanahan sedang bertapa atau semedi di Kembanglampir. Semedi ini juga bertujuan untuk mengetahui dan mendapat petunjuk keberadaan wahyu keraton. Pertanda wahyu keraton mulai ada,dengan munculnya bunga pada batang pohon mati kering.
Ki Ageng Giring III mendapat bisikan lagi yang berasal dari buah kelapa muda atau
 degan Gagak Emprit. Isi bisikan itu menyatakan bahwa siapa bisa meminum seketika sampai habis air kelapa muda Gagak Emprit maka keturunannya akan menjadi raja-raja di tanah Jawa.

Lantas buah tersebut dipetik lalu ditaruh di dapur,disebuah rak besar tempat menyimpan hasil tani atau ada juga untuk menyimpan peralatan dapur. Sebelum berangkat ke ladang, Ki Ageng Giring III berpesan kepada istrinya. “Nyi jangan ada yang meminum degan ini, ini sangat penting,”Ki Ageng Giring III berencana meminum degan tersebut saat pulang dari ladang, pada saat haus supaya terasa segar dan sekaligus agar dapat meminumnya sampai habis.
Sementara itu dalam semedinya, Ki Ageng Pemanahan juga mendapat wangsit bahwa wahyu keraton sudah diterima kakaknya Ki Ageng Giring III,setelah diberi gambaran bunga tumbuh dipohon kayu mati,selanjutnya ia jengkar atau menyelesaikan semedinya,kemudian bergegas menuju kediaman sahabat tuanya Ki Ageng Giring III di Sodo,untuk mengucapkan selamat dan ingin mengetahui Wahyu keraton tersebutSesampainya di rumah Sodo, Ki Ageng Pemanahan lantas menuju dapur karena haus dari perjalanan jauh,tahu bahwa di dapur ada sebuah degan di atas paga (tempat menaruh hasil tani), maka ia meminta ijin kepada Nyi Ageng Giring untuk meminumnya. “Mbakyu, Kang Mas dimana?, saya akan meminum air kelapa itu,” tanya Ki Ageng Pemanahan. “Jangan Dimas, nanti kakakmu marah,” jawab Nyi Ageng Giring.“Tidak apa-apa Mbakyu, kalau ada apa-apa saya yang bertanggung jawab", Ki Ageng Pemanahan memang sedikit memaksa, karena tahu bahwa wahyu kraton ada didegan tersebut,dari kesaktian dan ketajaman batin setelah bersemedi,sedang pada saat itu Ki Ageng Giring sedang jamas atau mandi di Kali Nyamat.
Begitu pula dengan Ki Ageng Giring III,melalui ketajaman batin,beliau pun merasa kecolongan, tahu dan sangat merasa kehilangan membuatnya menangis. Air mata yang menetes di bebatuan itu membuat batuan berlubang, retak atau pecah atau bahasa jawanya Gowang, sehingga di sungai tempat ia mandi hingga kini disebut Kali Gowang. Ini menjadi pengingat di mana saat Ki Ageng Giring III hatinya sedih, patah atau gowang. Lantas dikejarlah Ki Ageng Pemanahan oleh Ki Ageng Giring III, dengan maksud untuk meminta bagian keturunan dari wahyu keprabon kraton. Sembari berjalan dan terus mengejar, ia meminta kepada Ki Ageng Pemanahan, permintaan agar keturunannya dapat bergantian menjadi raja terus saja dilontarkan.
Gapura Kembang Lampir
Gapura kembang lampir
Pertanyaan demi pertanyaan mengenai keturunan ke berapa akan diberikan kepada keturunan Ki Ageng Giring III tak dijawab oleh Ki Ageng Pemanahan. Pengejaran atau perjalanan itu menuju ke arah barat. “keturunan ke-1 Dimas?,”,  “keturunan ke-2 Dimas?,”, “keturunan ke-3 Dimas?,” dan seterusnya tak dijawab. Setelah perjalanan sampai di Gunung Pasar wilayah Dlingo Bantul, keduanya berhenti,lalu Ki Ageng Pemanahan memberikan jawaban setelah pertanyaan sampai pada keturunan ke-7 dengan kelegaan.
“Mungkin sudah kodrat Tuhan Kang Mas, bahwa saya yang meminum air kelapa muda, yang kemudian akan menurunkan raja-raja, sedangkan Kangmaslah yang memetik dan menyimpannya atau yang mendapat wahyunya,” jawab Ki Ageng Pemanahan.setelah keturunan ke-7, wahyu akan diserahkan, atau keturunan sebagai raja agar berasal dari keturunan Ki Ageng Giring III. Setelah mendapat jawaban tersebut Ki Ageng Giring III puas hatinya lalu kembali pulang kerumah kediamannya, sedangkan Ki Ageng Pemanahan melanjutkan perjalanan ke Alas Mentaok, membabat alas atau membongkar hutan untuk dijadikan Kraton Mataram.
Pertapan Kembang lampir
Pertapan Kembang lampir
Di Gunung Pasar tersebut, masih ada hingga saat ini terdapat nisan atau kijing yang sesungguhnya bukan makam berjumlah tujuh,namun sebagai tetenger atau pertanda adanya perjanjian Ki Ageng Giring III dan Ki Ageng Pemanahan. Waktu berlanjut, Ki Ageng Pemanahan memiliki anak Panembahan Senopati sedangkan Ki Ageng Giring III punya anak Roro Lembayung.
Ki Ageng Pemanahan mendapat nasehat dari Ki Juru Mertani, bahwa walupun Ki Ageng Pemanahan dapat meminum degan sebagai wahyu Kraton, tetapi jika tidak bersatu dengan Ki Ageng Giring III tidak akan kuat memegang tampuk Kasultanan, maka Panembahan Senopati memperistri Kanjeng Roro Lembayung sehingga menurunkan Joko Umbaran atau Pangeran Purbaya di Wotgaleh, Berbah, Sleman.
Pangeran Purbaya atau julukannya Banteng Mataram itulah cucu dari Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring III, setelah itu menurunkan Sultan Agung Amangkurat dan akhirnya Pakubuwono di Surakarta Hadiningrat dan Hamengkubuwono di Yogyakarta. Sebenarnya hanya satu, yaitu Mataram di Surakarta tetapi karena olah licik Belanda dipecah menjadi dua pada perjanjian Giyanti, sehingga menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Berdasarkan perjanjian ini, wilayah Mataram dibagi dua; wilayah di sebelah timur Kali Opak (melintasi daerah Prambanan sekarang) dikuasai oleh pewaris tahta Mataram (yaitu Sunan Pakubuwana III) dan tetap berkedudukan di Surakarta, sementara wilayah di sebelah barat (daerah Mataram yang asli) diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi sekaligus ia diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwana I yang berkedudukan di Yogyakarta.
Sedangkan sejarah Desa Sodo berawal dengan ditemukannya makam Ki Ageng Giring III. Masyarakat setempat melakukan babat alas atau membuat jalan menuju makam, sehingga hingga saat ini ada tradisi babat dalan di wilayah Sodo, sedangkan nama Desa Sodo sendiri bermula dari kata Usodo atau berarti upaya berobat.
Setiap orang yang datang ke makam berdoa dan memohon kepada yang kuasa meminta obat, apakah ingin mendapat obat hati berupa ketentraman, dan lainnya. Perkembangannya, banyak yang datang berziarah atau untuk berdoa mendapat kemudahan dalam hal pekerjaan, pangkat atau karir, dan usaha bisnis serta yang lainnya. Biasanya makam Ki Ageng Giring III ramai pada malam Jum’at Kliwon, Selasa Kliwon dan Jum’at Legi.

whatshap Ki Rekso jiwo 089666616661

Sabtu, 24 Juni 2017

Makam Ki Ageng Sutowijoyo

Makam ki ageng sutowijoyo,berada didesa majasto kecamatan tawang sari kabupaten sukoharjo,dari arah kota sukoharjo kurang lebih 8KM kearah barat daya,menyebrangi jembatan Mbanmati keselatan,setelah menemukan pertigaan kebarat mengikuti jalur utama hingga menthok,makam yang terletak diatas bukit dan menurut cerita,kedalaman makam hanya setengah meter,namun tidak menimbulkan bau,sehingga tempat tersebut dinamakan Bumi Arum

Berdasarkan kisah legenda,babad,sejarah yang dituliskan pada serat centini,beliau merupakan keturunan majapahit dari Prabu Brawijaya V yang ke -107,pada masa runtuhnya kerajaan majapahit,anak keturunan majapahit tercerai berai hingga untuk menyembunyikan identitasnya,maka beliau memakai nama JOKO BODHO,saat bertemu dengan SUNAN KALIJAGA sejenak berguru kepadanya dan dikarena keadaan yang tidak memungkinkan sehingga,KI JOKO BODHO melanjutkan belajar agama islam ke pada SUNAN TEMBAYAT atau Ki Ageng Pandanaran
setelah menjadi musyafir melewati bukit Beluk,gunung Pegat dan dibukit TARUWONGSO mendapatkan wisik ghaib atau wahyu asmo atau nama pemberian gaib dengan nama KI AGENG SUTOWIJOYO

Ki Rekso jiwo sering kali melewati daerah ini saat nyekar dimakam eyang didaerah krajan tawang sari,namun pada kesempatan kali ini digunakan untuk mampir menziarahi makam salah satu waliullah yang menyebarkan agama islam didaerah sukoharjo ini yang merupakan ulama yang sakti mandraguna dan merupakan salah satu guru dari JOKO TINGKIR yang kemudian hari menjadi raja Kraton Pajang yang bergelar Sultan Hadiwijoyo

Perjalanan mendaki melalui anak anak tangga yang agak tinggi,namun tidak akan menimbulkan kecapekan,dari pintu gerbang gapura,selanjutnya akan bertemu musola yang biasa digunakan para berziarah bersembahyang maupun menginap jika menghendaki menginap disana,dan letak makam Ki Ageng Sutowijoyo berada disamping belakang musola,memang suasana tergolong sepi sehingga dapat berziarah,mendoakan arwah arwah yang bersemayam disana dapat lebih khusuk.

whatshap Ki Rekso Jiwo 089666616661

Jumat, 23 Juni 2017

Punden tambakboyo

Punden tambakboyo dikecamatan tawangsari,letaknya disebelah balai desa tambakboyo,merupakan salah satu punden yang dilestarikan warga hingga pemerintah,mengingat didalamnya terdapat batu andesit berbentuk seperti umpak atau batu penyangga tiang bangunan
Dahulu kala diceritakan bahwa awalnya berada dipinggir sungai bengawan,namun karena kerap kali mengganggu masyarakat yang hendak mandi atau mengambil air dibengawan solo,akhirnya disepakati bersama untuk dipindahkan ketempat yang lebih aman dan tinggi,namun pada saat diadakan kerja bakti yang dihadiri ratusan warga,tak ada yang bisa mengangkat atau menggeser batu tersebut
oleh karena kejadian yang tidak dapat dinalar tersebut,akhirnya sesepuh desa turun tangan dengan berdoa secara khushuk disana untuk memperoleh petunjuk,dan akhirnya ada tiga hal atau syarat yang harus dipenuhi untuk memindahkan batu tersebut
yang pertama adalah waktu yang digunakan untuk memindah adalah jumat kliwon,kedua harus diiringi tabuhan gamelan dan diselenggarakan tayuban oleh wanita cantik yang bernama nyai Sandung
sosok gaib yang memberitahukan syarat tersebut adalah kyai guno wijoyo.sosok orang tua yang kurus tinggi besar berpenampilan ala empu atau pendeta hindu,saat Ki Rekso Jiwo bermeditasi disana
oleh karena itulah para warga mencari informasi dimana Nyai Sandung berada dan hendak menanggapnya atau diserahi tugas untuk menghibur masyarakat dan guna keperluan mengangkat umpak batu tersebut

Acara bersih desa dilaksanakan tiap tahun pada hari jumat kliwon pada bulan antara agustus dan sebtember
menurut pendapat Ki Rekso Jiwo,batu umpak tersebut adalah yoni atau lingga yoni jika komplit,merupakan batu sembahyang umat hindu jaman dahulu yang memuja dewa siwa,dimana banyak sekali disekitar sukoharjo ditemukan lingga yoni dipinggir sungai,karena menurut keyakinan hindu,dewi gangga atau sumber air sungai gangga bersemayam dirambut dewa siwa,sehingga wajar jika penganut aliran siwa menempatkannya didekat sungai,terlepas kepercayaan masyarakat yang berbeda namun sungguh sangat penting sekali untuk diuri uri,tak hanya sebagai daerah pelestari tradisi dan budaya yang mana jika tidak dijaga dan dipertahankan akan tergerus oleh budaya manca

mengingat ada keyakinan beberapa orang yang meyakini pula jika daerah sukoharjo merupakan kerajaan malwopati yang rajanya angling darmo,mungkin ini salah satu peninggalan peninggalan diera setelah kraton walwopati ditinggalkan mengembara oleh Angling darmo
Mengingat pula banyak diceritakan jika wilayah sukoharjo kaya akan peninggalan hindu namun banyak yang tidak terlacak,karena belum banyaknya kesadaran akan pentingnya aset purba kala yang menjadi pengetahuan penting oleh anak cucu nanti

Terlepas dari itu semua,energi yang tersimpan dibatu tersebut memang luar biasa,dan dapat dilihat dari lemah punthuk atau tanah yang mengunduk diatas batu tersebut,menambah kesakralan dan kemistisan punden tersebut
whatshap Ki Rekso Jiwo 089666616661

Sabtu, 29 April 2017

Pertapan Srigati alas ketonggo

Pertapan srigati alas ketonggo berada didaerah paron ngawi jawa timur,tepatnya desa babatan,kali ini Ki Rekso jiwo mengunjungi alas ketonggo bersama keluarga,saat berbarengan dengan tugas pelayanan supranatural dikota ngawi jawa timur,bagi spiritualis tentunya tak asing lagi dengan alas ketonggo yang merupakan tempat penting dan berenergi sangat kuat.
Pertapan Srigati alas ketonggo

Pertapan panglereman disebut panglereman,mengingat tempat ini adalah pertapan yang merupakan petilasan petilasan tokoh tokoh spiritual dalam menentramkan fikiran dan hati guna memperoleh petunjuk Sang Maha Kuasa,sesuai dengan angan dan cita citanya
Pertapan Srigati alas ketonggo

Saat memasuki gapura pertapan panglereman alas ketonggo,akan terlihat Musola agung Srigati,kemudian petilasan sanggar pamujan Srigati,sanggar pamujan seperti halnya musola yang digunakan untuk beriktikhaf atau berdoa atau bertapa,dimana doa doa yang dipanjatkan tentunya pada Sang Yang Maha Kuasa
Alas ketonggo ngawi

Dibangunan ini merupakan petilasan eyang Srigati,seorang begawan india yang datang kepulau jawa menurunkan kerajaan kerajaan hindu ditanah jawa,petilasan syeh Dombo yang menyebarkan ajaran islam pertama diwilayah ngawi,dan pada saat akhir masa kerajaan majapahit,Gusti Brawijaya V melarikan diri hingga kesini dan melepaskan busana kerajaan dan bertapa disini sehingga memperoleh gelar sunan lawu,selanjutnya perjalanan dilanjutkan kepuncak wukir mahendra,oleh sebab itulah wukir Mahendra dinamakan menjadi Gunung Lawu

Setelah sejenak istirahat dipendapa dan permisi dengan mbah marji sang juru kunci,sebaiknya sebelum memulai sesuatu atau berdoa disini,sebaiknya mandi jamas ditempuran sungai atau disini dinamakan Tempuk sedalem,agar energi energi negatif dan penat perjalanan terluruhkan oleh segarnya air sungai Ketonggo
Kali tempuk sedalem ketonggo

Pertemuan dua aliran sungai secara alamiah mengandung energi yang luarbiasa untuk melarutkan energi negatif,tentunya dengan doa dan tatacara khusus yang harus diketahui atau perlu belajar dari sesepuh,spiritual atau juru kunci
Sebelum menuju arah tangga sungai,disebelah kiri terdapat petilasan sabdo palon atau penasehat raja majapahit dan petilasan pertapaan Bung Karno.
Setelah mandi bersih dan segar,bisa berdoa atau bermeditasi kemana saja diwilayah alas ketonggo ini sesuai dengan niatan hati,dan alangkah baiknya menginap untuk lebih fokus dalam beritual
whatshap Ki Rekso Jiwo 089666616661